September 28, 2022
Spread the love

Sementara ekonomi global belum sepenuhnya bernafas lega karena pandemi COVID-19, Bank Dunia memperingatkan bahwa perang, kebijakan penahanan China, gangguan rantai pasokan, dan stagflasi telah memukul pertumbuhan ekonomi.  rekomendasi slot gacor 2022

Presiden Bank Dunia David Malpass, mengutip situs Bank Dunia, mengatakan “banyak negara akan kesulitan menghindari resesi.”

Resesi terjadi ketika suatu negara menunjukkan pertumbuhan ekonomi negatif karena penurunan produk domestik bruto (PDB) selama lebih dari dua kuartal dalam setahun.

Resesi dapat menyebabkan berkurangnya keuntungan perusahaan, meningkatnya pengangguran, melemahnya daya beli masyarakat, dan bahkan kebangkrutan ekonomi.

Resesi, siklus yang berulang

Resesi adalah siklus ekonomi yang terjadi sepanjang waktu. Pada tahun 1935, banyak pemikir ekonomi dunia, seperti Joseph Schumpeter, menelaah kembali teori bahwa siklus ekonomi ini terjadi setiap 7 hingga 11 tahun dalam jurnal Analysis of Economic Change.

Sementara itu, ekonom Soviet Nikolai Kudraantiev berhipotesis bahwa siklus ekonomi ini terjadi setiap 45 hingga 60 tahun dalam ‘Siklus Ekonomi Hebat’.

Sejarah mencatat serangkaian resesi global yang terjadi selama beberapa dekade terakhir. Hal itu masih tergambar jelas di benak negara-negara seperti Indonesia dan Jerman yang sedang memasuki masa resesi akibat pandemi COVID-19.

Pada awal tahun 2012, krisis keuangan melanda beberapa negara di Eropa. Dan pada tahun 2008, gelembung perumahan AS menyebabkan bank investasi terbesar di dunia, Lehman Brothers, bangkrut.

Asia Tenggara sendiri mengalami resesi antara tahun 1997 dan 1999 yang dimulai di Thailand dan menyebar ke Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya.

Mungkinkah siklus resesi lebih pendek?

Kepala ekonom Bank of Central Asia David Somwal mengatakan dia tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa siklus resesi di masa depan akan lebih pendek dari perkiraan ekonom global.

Menurut David, resesi adalah episode yang tak terhindarkan.

Bahkan negara maju seperti AS tidak siap menghadapi inflasi yang tinggi dan dapat menaikkan suku bunga dengan cepat.

Resesi juga dapat diwakili oleh tingkat utang global, yang menunjukkan bahwa negara-negara maju saat ini mengalami tren peningkatan utang, yang dapat mendatangkan malapetaka pada perekonomian.

“Saya baru-baru ini mengetahui bahwa The Fed serius untuk menaikkan suku bunga. Tahun depan [ekonomi] bisa melambat,” kata David kepada DW Indonesia.

Dia juga mengatakan harga komoditas yang tinggi dan tingkat inflasi yang tinggi dapat menyebabkan resesi.

Karena itu, ia berspekulasi negara berkembang seperti Indonesia harus menyiapkan kebijakan moneter agar resesi tidak berdampak signifikan terhadap konsumsi masyarakat.

Sementara itu, ia mengusulkan kepada masyarakat luas agar masyarakat menabung dalam fase pertumbuhan ekonomi yang pesat.

David mengatakan kepada DW Indonesia melalui telepon, “Kami membutuhkan pemikiran strategis jangka menengah dan panjang daripada keuntungan jangka pendek dari pertimbangan politik.”

subsidi harus dipertimbangkan

David menyoroti anggaran negara sebesar Rp 520 triliun yang dialokasikan untuk memasukkan bahan bakar minyak Perlite (BBM), tabung elpiji 3 kg, dan kenaikan tarif listrik.

Ia mengatakan, subsidi BBM tidak ditujukan untuk kalangan menengah.

Kesenjangan antara harga keekonomian saat ini dan penjualan bahan bakar sangat besar, yang dapat menciptakan distorsi di pasar.

“Pendistribusian subsidi BBM yang tidak tepat sasaran bisa memicu penyelundupan,” kata David. “Sektor industri jangan disubsidi. Efisiensi perlu diperhatikan”.

“Dukungannya oke. Jangan terlalu besar karena distorsinya terlalu besar,” kata David.

Menurut dia, pemerintah Indonesia perlu mereformasi data agar subsidi yang disalurkan memang sengaja dibuat akurat. David memberikan contoh bagaimana pemerintah India mengelola data yang baik dan sektor keuangan mengarahkan dukungan ke tujuannya.

Inovasi teknologi diharapkan dapat mengurangi dampak resesi.

Shandy Jannifer Matitaputty, ekonom Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, berpendapat lain. Menurut Chandy, kemajuan teknologi yang pesat tidak akan memperpendek siklus resesi.

Pertumbuhan ekonomi selalu bergantung pada banyak hal termasuk sumber daya manusia (SDM), sumber daya alam (SDA), inovasi teknologi dan pembentukan modal.

Menurutnya, siklus resesi dapat diperpanjang atau diperpendek tergantung pada elastisitas penawaran dan permintaan. Pertumbuhan ekonomi dapat dibentuk oleh produksi di beberapa sektor, seperti jasa, manufaktur, dan pertanian.

Chandy mengatakan kepada DW Indonesia, ”Pasokan kami aman dan produksi kami aman. Fleksibilitas ini berarti kami tidak bergantung pada negara lain. Jika kami bergantung pada negara lain (jika) kami berisiko goncangan ekonomi.” katanya.

Pengeluaran suatu negara, atau aspek pengeluarannya, didorong oleh konsumsi, investasi, aktivitas pengeluaran pemerintah, dan faktor impor dan ekspor. Chandy juga menilai perang Rusia-Ukraina tidak berdampak langsung terhadap perekonomian Indonesia.

Chandy mengatakan kepada DW Indonesia, “Dampak ekonomi dari pandemi tidak dapat dibandingkan dengan perang di Ukraina. Epidemi telah mempengaruhi (Indonesia) sektor kesehatan, manufaktur dan tenaga kerja.”

Dia mengatakan situasi ekonomi Indonesia akan baik-baik saja kecuali Bank Sentral Indonesia (BI) merespons dalam bentuk perubahan pengaturan suku bunga.

Namun, setiap perubahan kebijakan yang diumumkan oleh BI akan diikuti oleh bank-bank yang disponsori oleh BI.

Leave a Reply

Your email address will not be published.