January 28, 2023
Spread the love

Jakarta – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumsel (BKSDA Sumsel) bekerja sama dengan beberapa pihak memasang kalung GPS pada dua kelompok gajah liar.

Sebuah cincin GPS dipasang untuk memantau gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Kantong Habitat Sugihan-Simpang Heran Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).  judi slot gacor

Presiden BKSDA Sumsel Ujang Wisnu Barata mengatakan, langkah tersebut merupakan upaya untuk meredakan konflik dan memantau efektivitas penggunaan ruang (metode jelajah) tempat penelitian ilmiah dilakukan.

Proses dan tahapan pemasangan GPS collar pada kedua kelompok gajah tersebut telah berlangsung sejak April 2022, menyusul penelusuran keberadaan kelompok sasaran gajah, tim koordinasi dan peralatan, serta sosialisasi kepada masyarakat dan pemangku kepentingan. ,” kata Zhang Oh, Selasa (17/5/2022).

Kajian ilmiah tersebut melibatkan perusahaan perizinan pemilik lahan, antara lain Populasi Gajah Liar, Persatuan Jaringan Hutan dan Satwa Liar (PJHS), Universitas Sriwijaya dan Universitas Pakuan.

Temuan itu dibahas bersama pada 7 April 2022.

Menurut Ujang, kegiatan ini merupakan langkah praktis untuk meningkatkan upaya konservasi on-site untuk melestarikan gajah sumatera yang terancam punah di provinsi Sumatera bagian selatan.

Ia juga mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diberikan dalam pemantauan keanekaragaman hayati, terutama keberadaan gajah liar di kawasan izin yang merupakan bagian dari seluruh Habitat Gajah Sugihan-Simpang Hiran.

“Upaya ini merupakan kewajiban semua franchisee sebagai bagian dari tanggung jawab keanekaragaman hayati perusahaan mereka,” kata Ojang.

Menurut Syamsuardi yang turun langsung bersama tim memantau keberadaan populasi gajah, menurut Presiden Perhimpunan Jaringan Hutan dan Satwa (PJHS), ada tiga kelompok di kawasan Air Sugihan yang menjadi sasaran pemasangan GPS. berwarna.

Menurutnya, selain aksesibilitas, kepribadian kelompok gajah tidak agresif (quiet personality) terhadap interaksi manusia. Namun harus dalam jarak aman (± 30 meter).

Ada orang yang berburu gajah liar di kelompok yang berlawanan.

“Jelas ini menunjukkan keharmonisan hidup antar gajah liar yang bisa hidup berdampingan ketika kita ingin berbagi ruang,’ kata Siamswardi.

Tim pemasangan cincin GPS terdiri dari orang-orang yang berpengalaman menangani gajah liar dari BKSDA Sumsel, Balai Taman Nasional Way Kambas, dan tim PJHS, didukung oleh unsur dokter hewan dan perusahaan franchise Elephant Roaming Route.

Dalam rencana aksi, tim menghitung periode kegiatan minimal 4 hari untuk memasang kalung GPS pada dua populasi gajah liar mulai 12 hingga 15 Mei 2022.

Perhitungan tim yang cermat membuahkan hasil yang jauh lebih cepat dari perkiraan, sehingga pada kegiatan hari kedua, tim berhasil memasang kalung GPS pada dua kelompok gajah liar yang menjadi sasarannya.

Imobilisasi dilakukan terhadap gajah betina berusia kurang lebih 40 tahun dengan berat 2.812 kg pada pukul WIB 14:35.

Juga, sekitar pukul 17:30, pengait GPS kedua berhasil dipasang pada gajah seberat 2.545 kg berusia 30 tahun.

Juga untuk identifikasi di tempat, tim menyepakati bahwa gajah pertama akan diberi nama Melanie dan yang kedua adalah Meisi karena pemasangannya pada Mei.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *