October 2, 2022
Spread the love

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menerbitkan draf amandemen Peraturan BPOM Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan. Salah satu zat tersebut mewajibkan label air minum dalam kemasan polikarbonat atau botol plastik kaku dengan mencantumkan tulisan ”berpotensi mengandung BPA”.  judi gampang menang

Terkait rencana tersebut, PT. Produsen Cleo Gallons Sarigona Primatrata Tbk Yohanes Catur Artiono meminta pengusaha AMDK untuk tidak melihat rencana BPOM sebagai hantu yang mengerikan.

Menurutnya, hal ini seharusnya menjadi tantangan nyata bagi para pemimpin bisnis AMDK untuk berkreasi dan inovatif dalam meningkatkan produknya menjadi kemasan bebas BPA.

Dalam webinar bertajuk “Pelabelan BPA: Menuju Masyarakat Sehat dengan Pasar Sehat”, Johannes mengatakan, “Jika paparan BPA Anda di bawah batas yang ditetapkan BPOM, lalu mengapa khawatir?

“Perwakilan komersial yang terpapar BPA melebihi batas aman karena pemrosesan ulang galon polikarbonat yang tidak tepat harus mencari inovasi,” tambahnya.

Selain menjadi tantangan yang bisa melahirkan inovasi, Yohanes mengatakan, skema pelabelan tersebut sebenarnya menyasar produk air minum kemasan polikarbonat yang paparan BPA-nya melebihi batas aman yang ditetapkan BPOM.

Bisphenol A, atau BPA itu sendiri, adalah bahan kimia yang digunakan dalam proses pembuatan galon plastik kaku. Menurut berbagai publikasi ilmiah, risiko paparan BPA dalam kemasan kontak makanan dapat menyebabkan gangguan hormonal yang berujung pada infertilitas dan kanker.

Dalam perubahan regulasi, BPOM mewajibkan batas deteksi BPA untuk kemasan galon polikarbonat tidak melebihi 0,01 bpj (parts per million). BPA dapat dideteksi dalam kemasan makanan polikarbonat dan diangkut dari fasilitas produksi ke distribusi dan penyimpanan.

Johannes mengatakan, “Kami sudah lama memproduksi galon non-polikarbonat dan diberi label bebas BPA karena kami mengantisipasi kebutuhan masyarakat akan kesehatan di masa depan,” kata Johannes.

Cleo sendiri juga menjelaskan bahwa ia kini telah menemukan cara untuk mendaur ulang galon non polikarbonat yang sudah tidak layak pakai menjadi galon yang layak pakai.

Diane Kosassi, Regional Director PT Sariguna Primatirta, Tbk, mengatakan: “Strategi kami berinovasi dalam daur ulang botol ke botol” adalah dengan melakukan.” jelasnya. pada kesempatan yang sama.

Klaim Penangguhan Bisnis AMDK

Terkait skema pelabelan BPA, pengusaha AMDK menolaknya. Misalnya, Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia atau Aspadin meminta BPOM untuk tidak melanjutkan rencana tersebut.

Aspadin mengklaim aturan pelabelan BPA, jika disahkan, akan menciptakan persaingan komersial yang tidak sehat dan membunuh industri air minum galon.

Namun dalam webinar yang sama, Dr. Emma Mayasari, MH, menilai formula perubahan regulasi BPOM sudah sesuai dengan proses pembuatan regulasi yang direkomendasikan negara maju atau OECD.

Menurutnya, BPOM menerapkan apa yang disebut penilaian dampak regulasi dengan mempertimbangkan praktik terbaik negara lain (praktik terbaik internasional) dan memeriksa dampak paparan BPA dalam literatur dan laboratorium (pembuatan kebijakan berbasis bukti). Keterlibatan semua pemangku kepentingan (stakeholder interest engagement).

Sementara itu, Tjahjanto Budisatrio, pakar persaingan dagang Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang hadir sebagai pembicara mengatakan, risiko paparan BPA merupakan eksternalitas negatif dan risiko nikotin bagi industri air minum dalam kemasan. Tar dari industri tembakau.

Dalam situasi ini, pemerintah biasa melakukan intervensi, dalam hal ini BPOM memastikan bahwa industri tidak terkena kegagalan pasar di masa depan.

Inovasi perusahaan mengantisipasi dan melampaui evolusi kebutuhan kesehatan masyarakat.

“Produknya (IKEA) bertahan hingga saat ini. Artinya pengusaha, produsen harus kreatif dan inovatif, seiring tuntutan masyarakat yang pada akhirnya meningkat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published.