October 7, 2022
Spread the love

BANDUNG, – Asep Andian, 39, tak menyangka perusahaan topi yang berdiri sejak 2006 bisa masuk pasar luar negeri.

Sembari mengikuti jejak orang tuanya mencari kekayaan di dunia fashion, ternyata tidak semudah merawat tangan.

Warga Desa Kiaracondong, Desa Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat harus menaklukkan waktu dan mengasah diri dari hari ke hari untuk menghasilkan produk topi dengan kualitas terbaik.  daftar slot online 2022

Saat merintis penghitungan minimum order, dia terus melakukannya, membantu orang tuanya menjual produk mereka.

Ia mengatakan kepada , Selasa (31), ”Kalau lurus saja seminggu bisa beli 50 Market Class Point, kadang saya beli topi dan jual ke bapak./5/2022)”.

Setelah mendapat pinjaman sebesar 100 juta rupee dari bank, Asep memutuskan untuk membuka usaha sendiri.

Tidak suam-suam kuku, dan jika Anda menyentuh pasar di Jakarta dan Bali, Anda dapat memproduksi 3000 hingga 5000 topi seminggu.

Omzet saat ini yang bisa direalisasikan dalam satu bulan hanya dengan dana pinjaman, mencapai 3 miliar rupiah.

”Tidak disangka-sangka berdagang dengan angka itu. Kalau saya serius, pasti hasilnya akan terbukti,” ujarnya.

Penetrasi pasar global

Hasilnya tidak akan menjadi pengkhianatan tentunya, tetapi akan menjadi pedoman bagi operasional bisnis Asep.

Produknya pasti suka pasar luar negeri.

Di , dia berbicara dengan seseorang yang ditunjuk sebagai Ketua RW di kota tempat dia bekerja saat ini.

Saat itu, Asep sedang memasarkan produk topinya secara online.

Tiba-tiba, seorang Indonesia Amerika memanggilnya dan meminta untuk menunjukkan topi Asep-nya.

Asep lucu sekaligus malu dengan perjalanannya ke pasar global.

Pasalnya, saat dibawa pulang (tempat produksi pertama), jembatan putus dan terjadi banjir.

Dia telah bekerja dengan orang Amerika selama tujuh tahun sekarang.

Topi yang dikirim dan dijual ke pasar luar negeri khususnya diperlakukan sebagai sampah, katanya.

Mulailah dengan kancing topi yang terbuat dari kaleng bekas atau wadah makanan atau minuman bekas.

Mulai dari sisa kain jok motor atau mobil hingga serat plastik di ember yang digunakan untuk membuat topi.

Selain itu, tidak sulit bagi Asep untuk membuat topi dari sampah, karena salah satu kerabatnya bergerak di bidang pembuangan sampah.

Awalnya hanya topi polos polos yang dibuat untuk pasar Amerika, dan tentunya dibuat dengan kualitas tinggi.

Namun lambat laun kerja sama itu menuntut lebih. Yakni, pembuatan topi fashion dan kemitraan dengan perusahaan kelas dunia.

Asep mengatakan topi yang dijual di pasar global bernama TOPIKU. Dalam satu bulan, produksi TOPIKU mencapai lebih dari 6000 pesanan.

Asep tidak percaya bahwa bisnis yang dimulai dengan modal kecil bisa menjangkau pasar global.

Saat ini TOPIKU telah hadir di hampir 32 negara.

kebangkitan dari wabah

Meski Asep masuk ke pasar global, bisnis Asep ambruk karena wabah.

Dari pesanan yang sering dibatalkan hingga beban biaya produksi dan PHK 80% karyawan.

Asep seperti dipukul keras, Asep berlutut dan tidak bisa bangun.

Penjualan yang awalnya mencapai miliaran rupiah sulit dicapai saat itu, mencapai 100 juta rupiah.

Saat itu, Asep berdiri dan berjuang untuk tidak mengalahkan wabah tersebut.

Satu-satunya cara untuk mengambilnya adalah inovasi. Alasannya hanya itu yang bisa membuka kembali jalur tembus pandang.

Dia berkata, “Tidak ada cara lain selain inovasi. Kami mulai membuat topi di pasar, tetapi kami memulai dengan kualitas tinggi. Harganya lebih tinggi dari pasar umum, dan kualitas adalah yang terbaik.”

Inovasinya tentu membuahkan hasil. Satu per satu, staf mulai kembali. Omset juga mulai menumpuk, mencapai tujuan lagi.

Ia mengatakan, “Sekarang ada sekitar 50 hingga 80 karyawan, tetapi konsepnya pakaian. Penjualan tidak mulai naik ke target seperti sebelum pandemi. Kami baru mencapai 1,5 miliar rupee sekarang.”

Leave a Reply

Your email address will not be published.