October 1, 2022
Spread the love

Jakarta – Selain mendapat uang dari investor, perusahaan digital juga berinvestasi. Diantaranya adalah Bucalapak yang berinvestasi di Allobank, Go-Jek dan Grab yang berinvestasi di LinkAza, dan Akulaku yang membeli saham di Bankneo.

Saham yang dibeli oleh perusahaan digital tidak sebesar itu, tetapi mereka masih tertarik untuk berinvestasi di perusahaan yang sudah berjalan dengan baik.  slot pulsa tanpa potongan

Menurut Joris Sebastian, pendiri OMG Creative Consulting, investasi yang dilakukan oleh perusahaan digital umumnya dilakukan oleh perusahaan digital, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Di masa lalu, sebuah perusahaan dimiliki oleh mayoritas, tetapi sekarang kepemilikan saham sebuah perusahaan kecil dan dimiliki oleh banyak investor.

Investasi di perusahaan digital meniru Google, yang berinvestasi di banyak perusahaan yang sudah beroperasi. Lloris memperkirakan tujuan perusahaan digital berinvestasi di perusahaan lain adalah untuk mendominasi pasar dan menciptakan ekosistem digital yang lebih besar dan kuat.

Joris meyakini bahwa langkah perusahaan digital untuk membeli banyak saham di perusahaan tersebut merupakan langkah untuk berkolaborasi (cooperate) daripada bersaing (compete with each other).

Tujuan lain dari akuisisi ini adalah untuk mengurangi perang harga yang tidak sehat, karena banyak perusahaan digital global sekarang berkolaborasi daripada bersaing. Ini menciptakan ekosistem yang lebih sehat dan lebih besar.

Dia mengatakan perusahaan investasi milik pemerintah Singapura telah mengakuisisi startup Silicon Valley. Perusahaan dan pendirinya telah sepenuhnya dianonimkan. Namun, dia menyukai ide itu, jadi dia bergabung dengan startup sebagai Angel Capital dengan 7% saham.

Agar startup yang didanai dapat mengembangkan bisnisnya di Asia, ia harus membuka kantor di Singapura dan membayar pajak.

Lihat saja Astra dan Telkom Cell yang sudah maju ke Go-Jek. Industri film Korea juga membeli saham bioskop terbesar di Indonesia itu. Saat ini, investor sedang berinvestasi dalam penelitian tentang potensi kolaborasi dengan bisnis strategis perusahaan digital masa depan. Jadi jangan hanya melihat jumlah stok yang sedikit,” jelas Joris.

Meski industri pasar modal global dan Indonesia berada di bawah tekanan dari suku bunga federal yang lebih tinggi, Yoris melihat peluang bagi perusahaan teknologi Indonesia tetap terbuka lebar. Lloris mengakui bahwa angel investor yang sudah ada yang terjun ke bisnis digital lebih berhati-hati dengan rencana bisnis mereka.

Katanya, “Saat ini banyak angel investor yang mencari perusahaan dengan business plan yang jelas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published.