September 26, 2022
Spread the love

Medan – Ul-ud-Din Sihutang, mantan bankir Syariah Lubukpakam, dan pegawainya Rasyid Ridho kini memasuki tahap kedua.

Keduanya didakwa melakukan pemalsuan dokumen. 

Penyidik ​​Polda Sumut menyerahkan tersangka dan barang bukti kepada penyidik ​​Kejaksaan Tinggi Sumut pada Rabu (18/5/2022).  daftar slot online tergacor

Dalam kasus ini, kedua tersangka tersebut merupakan tersangka berdasarkan Pasal 63 (2) Pasal 63 (1) (a) juncto Pasal 55 KUHP.

Status tersangka ditetapkan berdasarkan Laporan Polisi No.: LP/A/1336/VIII/2021/Ditreskrimsus/Polda Sumut, 23 Agustus 2021.

Coombs Hadi Wahyudi, Kepala Humas Polda Sumut, mengatakan insiden yang melibatkan mantan bankir syariah itu terjadi antara 2012 dan 2014.

Kedua tersangka yang bekerja di bank milik negara itu melanggar aturan perusahaan dan memberi warga Taman Asri pembangunan dan dana Murabahah untuk Kediaman Bank Syariah (KPR IB).

“Contoh pencairan dana bantuan komersial yang digunakan untuk membangun rumah tapak adalah di Jalan Mospica di Desa Tanjung Sari, Kecamatan Batangquis, Provinsi Dilesirdang.

Hadi, Kamis (19/5/2022), pembangunan KPR dilakukan oleh dua pengembang, CV Sari Jaya dan Kartika Sari Ruru, yang mendapat modal kerja dari bank Sumut yang Syariah.

Kedua pengembang itu dibekap dana dari bank lokal milik negara tempat kedua tersangka bekerja.

Awal Al Din, manajer cabang saat itu, membangun 38 rumah dalam dua tahun dengan biaya Rp 1,6 miliar.

“Namun faktanya, sejauh ini belum ada pengembang yang menyelesaikan rumah di atas rumah Taman Asry sesuai kontrak. Setelah itu, pada tahun 2012 Bank Syariah Somut Lobokpakam menyalurkan pinjaman kepada rumah Bank Umum Syariah karena rumah tersebut belum siap huni. ” hati-hati.

Tersangka Uluddin Sihutang kembali menyepakati pembiayaan kapasitas Murabahah untuk membangun 58 KPR selaku pimpinan Bank Syariah Lubukpakkam.

Dia menyetujui pinjaman sebesar Rs 12 miliar untuk pengembang yang sama.

Namun, saat mengeluarkan pinjaman, Ole Debt dan Rashid Rideau merancang persyaratan pembayaran pinjaman.

Hardy mengatakan, “Tersangka memalsukan dokumen atau menyerahkan dokumen yang cacat, memeriksa dokumen, dan memalsukan surat dengan syarat dana telah dibayarkan, termasuk laporan analisis,” kata Hardy.

Polisi juga menyita barang bukti dari tangan pelaku, antara lain dokumen permohonan kredit, laporan analisis kredit, dan laporan audit khusus KCP Lubuk Pakam, Bank Syariah Sumut.

Setelah berkas perkara lengkap, kasus kedua dirujuk ke Pengadilan Tinggi Sumatera Utara untuk diadili.

Hardy menyimpulkan bahwa itu “lengkap, dikeluarkan di P21, dan diserahkan kepada Jaksa Agung.” (cr17/-medan.com)

Pengarang: Anugra Nasuthan

Artikel tersebut dimuat di Medan.com dengan judul Dokumen Palsu Mantan Presiden Bank Syariah Sumatera Utara, yang saat ini ditahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.