September 28, 2022
Spread the love

DELISERDANG – Warga memprotes hasil pemilihan kepala desa (Pelkadis) di Kabupaten Deliserdang di Sumatera Utara.

Pemilihan dilakukan pada 18 April.

Puluhan warga Desa Sinta Damai, Kecamatan Birkut Situan, menggerebek kantor Bupati Dilisirdang, Rabu (18 Mei 2022).  slot online terbaru

Mereka menganggap hasil Pilkades penuh dengan tuduhan penipuan.

Informasi yang dihimpun warga yang hadir adalah Edward Tua Simatupang, tim pendukung Cakades No.3.

Mereka juga menggerebek kantor wilayah Persut Situan beberapa hari lalu. Mereka sampai di kantor Bupati dengan mobil lain dan langsung dikawal polisi.

Karakter Edward Tua Simatupang juga terlihat bersama rombongan saat itu.

Panitia Bilkides Kabupaten langsung mengakomodir keinginan warga saat itu dan mengundang perwakilan masyarakat untuk berdiskusi di ruangan tersebut.

Khair Al-Azman Harhab, kepala komunitas pada saat itu, bekerja dengan staf untuk menanggapi setiap keluhan komunitas.

Turut hadir Pj Jaksa Agung Pemkab Musleh dan Kepala Daerah Ismail Berkut Situan.

Saat itu, penduduk sedang menyampaikan berbagai hal di depan Kiral dan Musle.

Hal yang sama berlaku untuk keluhan dan juga ancaman. Warga yakin bahwa Cacades terpilih dan incumbent akan mengambil sikap tegas bahkan jika mereka masih ditunjuk.

Seorang wanita berbaju ungu, yang kemudian disetujui oleh penduduk lain, kata seorang wanita.

Saat itu, warga berulang kali mendesak penundaan pemilihan jabatan publik dan mengulangi langkah tersebut.

Menyadari bahwa akan ada peluncuran serentak dari Cacades terpilih pada tanggal 20 Mei, mereka juga berharap bahwa Kakadis desa tidak akan diselenggarakan di tempat pertama.

Dia menilai kecurangan itu sangat kentara, apalagi Komisi Pemilihan Umum (P2KD) kota itu berpihak pada calon petahana.

Edward Tua Simatupang saat itu mengaku ditipu. Jadi selisih dia dan petahana hanya sembilan suara.

Ia mengaku mendapat total 3538 DPT dan 1.409 suara dari 3 calon dan mendapat 1.400 suara.

Saat itu, saya diberitahu beberapa kali bahwa saya harus membawa kasus penipuan ke Pengadilan Tata Usaha Negara Medan untuk membuktikannya, tetapi pada saat itu saya tidak yakin apakah saya akan melakukannya.

“Kertas yang dilubangi itu dinyatakan hidup. Saya bukan warga yang cinta damai, tapi saya bisa memilih. DPT itu dibagikan pada tanggal 17 jam 11 malam. Selisih suara hanya 9. Sampai jumpa (saya akan menuntut Edward ada atau tidak)).

Khair Azman Harhab, ketua partai PMD Deliser, bergantian bekerja sama dengan anggota untuk menanggapi keluhan warga satu per satu.

Ia juga dibantu oleh Wakil Menteri Kehakiman yang saat itu merupakan seorang reformis. Ia berharap ke depan kantor desa tidak tutup.

“Ya, jangan lakukan itu. Anda dapat melakukan hal-hal yang tidak Anda inginkan. Itu dapat menyebabkan keributan di kota. Kami dapat membuka Cakades terpilih dan menundanya karena kami tidak melakukannya.'” kata Khair

Mantan Camat Persut Situan itu membenarkan bahwa pihak keluarga Kakadis telah mengizinkan tuduhan penipuan itu dibawa ke PTUN. Saya pikir ini adalah cara yang benar untuk melakukannya karena sudah ditentukan.

Saat itu, hanya pengadilan yang bisa membuktikan apakah itu penipuan.

“Jangan pesimis membawa perintah ini ke PTUN. Pada periode sebelumnya, 7 desa mengajukan gugatan dan itu adalah 1 won. Jadi meskipun dibuka karena pencabutan perintah pengadilan, keputusan wali terbalik. Itu terjadi… sebelumnya.”

Sementara itu, Mosleh menambahkan, Pemkab tidak mungkin memenuhi permintaan warga untuk menunda peluncuran cacade terpilih.

Ketika menjadi tuan rumah Pilkades, dikatakan bahwa kepercayaan pemerintah diatur dengan peraturan yang berbeda tentang apa yang bisa dan tidak bisa mereka lakukan.

(Penulis: Indra Gunawan)

Artikel ini telah tayang di Medan.com dengan judul TAK Puas dengan Hasil Pemilihan Walikota.

Leave a Reply

Your email address will not be published.